menu

Jumat, 10 Juni 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 08



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 08

08
  
       Bram membuka pintu kamar itu pelan-pelan lalu masuk diiringi Surya. Nampak di atas meja tak teratur buah segar berdesakan dengan botol-botol infus yang belum terpakai. Saat ini Paman Juhri sedang tertidur pulas. Pelan-pelan Bram mendekati Paman Juhri. Tiba-tiba berdering HP-nya Surya, ternyata itu panggilan dari rumah yang menyuruhnya cepat pulang. Surya pun buru-buru pulang. Kini hanya ia sendiri yang tinggal di kamar itu. Ia meletakkan tas bahunya di tempat yang aman, lalu duduk di tepi ranjang Paman Juhri. Ia hampir meneteskan air mata karena terharu melihat Paman Juhri yang terbaring layu. Ia sudah merasa Paman Juhri ini seperti mertuanya sendiri. Hampir setengah jam ia berada di ruang Kumala A4 ini, baru ingat bahwa tadi sore ia tidak sempat pamitan dengan Julak Idar dan Ayu. Padahal sekarang hampir pukul sebelas malam. Haruskah ia memberi kabar sekarang? Harus! Itu sangat harus, tetapi apakah Ayu itu masih belum tidur? Akhirnya ia memutuskan harus memberitahu bahwa ia berada di Banjarmasin. Cepat-cepat ia mengeluarkan HP-nya, tetapi HP itu tak ada di sakunya. Dicarinya di dalam tas ternyata juga tak ada. Astagfirullah! Ternyata HP-nya ketinggalan. Wah, bisa kacau nih. Bukankah HP itu wajib harus dibawa kemana pun ia pergi? Tanpa HP ia tak bisa dihubungi dan juga tak bisa menghubungi rekan-rekannya yang lain, lebih-lebih lagi Julak Idar dan Ayu. Karena semua nomor-nomor penting ada di dalam HP itu. Tak ada satu nomor pun yang dapat diingatnya. Bagaimana ini? Apa boleh buat. Tiba-tiba ia melihat Paman Juhri membuka matanya pelan-pelan. Perlahan ia menoleh ke arah Bram lama sekali. Nampaknya Paman Juhri itu mencoba mengenalimya.

Rabu, 08 Juni 2016

Cintaku Masih Ada Di Kamar Ini



Cintaku Masih Ada Di Kamar Ini 
Cerpen Hamberan Syahbana

       Tak terasa sudah lima tahun istriku berpulang ke rahmatullah. Berarti sudah lima tahun juga aku menduda. Tapi rasanya baru beberapa bulan saja. Masih terang dalam ingatanku, selama sembilan tahun kami bercengkarama di kamar ini. Suka dan duka kami alami bersama, kini semua tinggal kenangan. Sejak kepindahanku ke kota, aku malas, aku jarang pulang kampung. Hanya saja kedua anakku yang masih kecil-keil itu sering minta diantar, maklum keduanya sejak bayi sudah lekat dengan Nurlina mantan adik iparku itu. Seperti sekarang ini, ya aku mau saja mengikuti keinginan anakku itu. .

Sabtu, 04 Juni 2016

Mengungkap Keunikan Gumam Asa Bungkam Mata Gergaji Ali Syamsudin Arsi



Mengungkap Keunikan Gumam Asa Bungkam Mata Gergaji
Ali Syamsudin Arsi
oleh Hamberan Syahbana
I
       Bungkam Mata Gergaji adalah sebuah buku kumpulan gumam Ali Syamsudin Arsi, yang biasa disebut dengan panggilan Bung ASA, salah seorang sastrawan dari Kalimantan Selatan yang dikenal luas sebagai penulis puisi. Sedangkan di jejaring social facebook dunia maya Bung ASA ini biasa menggunakan akun Ali Arsyi. Buku ini diterbitkan oleh Framepublishing Yogyakarta. Sebuah buku berukuran 13,5 x 20 cm, tebal 148 + xiv halaman dengan nomor ISBN 978-979-16848-4-7. Desain cover oleh Nur Wahida Idris dengan gambar cover lukisan Pintu Larangan karya Darvies Rasyidin. Cetakan pertama buku ini terbit pada bulan Februari 2011.

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 07



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 07

07

       Hari ini hari Minggu. Sejak dini hari tadi Ayu tak bisa tidur lagi. Sehabis sholat Shubuh ia langsung merebus air dan memasak buat makan pagi. Memang kedengarannya sangat aneh, ini bukan kebiasaan ibu-ibu di sini. Di sini sarapan pagi tidak di rumah tetapi di warung, termasuk juga Abah. Memang tidak semuanya seperti itu, ada juga satu dua yang sarapan di rumah. Ayu belakangan ini termasuk yang biasa sarapan di rumah. Abah memahami perubahan sikap Ayu belakangan ini. Itu karena hubungannya dengan Bram sedikit membaik. Bukankah istri yang baik selalu mempersiapkan sarapan buat suami? Bukankah sudah seharusnya ia membiasakan dari sekarang? Abah geleng-geleng kepala dan manggut-manggut kepala lalu pergi cepat-cepat ke warung katupat Acil Siti yang murah meriah.  
 

Kamis, 02 Juni 2016

MENIKMATI PUISI GELEPAR RUMPUT KHATULISTIWA KARYA DEWI NURHALIZAH



MENIKMATI PUISI
GELEPAR RUMPUT KHATULISTIWA
KARYA DEWI NURHALIZAH
I
       Pada waktu membaca judul essei ini pertanyaan yang timbul di benak kita adalah, Apakah puisi bisa dinikmati? Mungkinkah kita bisa menikmati puisi, sementara informasi yang disajikan teramat sedikit?  Jawabnya adalah Tentu saja Bisa. Kenapa tidak? Bagaimana caranya?

Selasa, 31 Mei 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 06



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 06
06

        Sepulangnya dari rumah Abah seminggu yang lalu Bram jadi makin bingung dan semakin kacau balau. Bahkan ia merasa sebagai orang yang paling munafik karena telah bermuka dua. Di mulut berkata ya di hati berkata lain. Seyogyanya ia harus membuang prinsip yang kaku “Pantang Pemuda Makan Sisa”. Meski Ayu seorang janda tetapi ia bukan barang sisa. Hanya nasibnya saja yang malang, baru kawin dua bulan suaminya sudah meninggal. Untuk ini ia harus kembali menjadi Bram yang mencintai Ayu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Meski ia seorang janda tapi masih cantik menawan. Itu tidak bisa dianggap barang sisa. Ia seorang manusia yang sama sekali bukan barang.

Senin, 30 Mei 2016

MENGENAL PENYAIR IBRAMSYAH AMANDIT MELALUI PUISI ‘BAGAI PERAHU’



MENGENAL PENYAIR IBRAMSYAH AMANDIT MELALUI PUISI
‘BAGAI PERAHU’
  
I
IBRAMSYAH AMANDIT

      Ibramsyah Amandit adalah nama pena dari H. Ibramsyah bin H. Lawier yang lahir pada tanggal 9 Agustus 1943 di Desa Tabihi Kanan, Kelurahan Karang Jawa, Kecamatan Padang Batung, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Di kalangan sastrawan Kalsel ia lebih dikenal dengan sebutan si Janggut Naga. Ibramsyah Amandit mulai menulis sejak tahun 1970-an. Pada tahun 1971 ia aktif dalam diskusi dan pembacaan puisi Persada Club Yogyakarta di bawah bimbingan Umbu Landu Paranggi. Di Insani Club di bawah bimbingan Emha Ainun Najib dan di rumah pondokan bersama Abdul hadi WM.