RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 08
08
Bram membuka pintu kamar itu
pelan-pelan lalu masuk diiringi Surya. Nampak di atas meja tak teratur buah
segar berdesakan dengan botol-botol infus
yang belum terpakai. Saat ini Paman Juhri sedang tertidur pulas. Pelan-pelan
Bram mendekati Paman Juhri. Tiba-tiba berdering HP-nya Surya, ternyata itu
panggilan dari rumah yang menyuruhnya cepat pulang. Surya pun buru-buru pulang.
Kini hanya ia sendiri yang tinggal di kamar itu. Ia meletakkan tas bahunya di
tempat yang aman, lalu duduk di tepi ranjang Paman Juhri. Ia hampir meneteskan
air mata karena terharu melihat Paman Juhri yang terbaring layu. Ia sudah
merasa Paman Juhri ini seperti mertuanya sendiri. Hampir setengah jam ia berada
di ruang Kumala A4 ini, baru ingat bahwa tadi sore ia tidak sempat pamitan
dengan Julak Idar dan Ayu. Padahal sekarang hampir pukul sebelas malam.
Haruskah ia memberi kabar sekarang? Harus! Itu sangat harus, tetapi apakah Ayu
itu masih belum tidur? Akhirnya ia memutuskan harus memberitahu bahwa ia berada
di Banjarmasin. Cepat-cepat ia mengeluarkan HP-nya, tetapi HP itu tak ada di
sakunya. Dicarinya di dalam tas ternyata juga tak ada. Astagfirullah! Ternyata
HP-nya ketinggalan. Wah, bisa kacau nih. Bukankah HP itu wajib harus dibawa
kemana pun ia pergi? Tanpa HP ia tak bisa dihubungi dan juga tak bisa
menghubungi rekan-rekannya yang lain, lebih-lebih lagi Julak Idar dan Ayu.
Karena semua nomor-nomor penting ada di dalam HP itu. Tak ada satu nomor pun
yang dapat diingatnya. Bagaimana ini? Apa boleh buat. Tiba-tiba ia melihat
Paman Juhri membuka matanya pelan-pelan. Perlahan ia menoleh ke arah Bram lama
sekali. Nampaknya Paman Juhri itu mencoba mengenalimya.