menu

Tampilkan postingan dengan label cerita bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita bersambung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juli 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 12



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 12


       Abah membawa piring gado-gado dan satenya menuju ke dapur. Ia sengaja menjauh agar Ayu dan Guru Ibas itu bisa lebih santai dan leluasa mengeluarkan isi hati masing-masing. Sepertinya makan gado-gado sepiring berdua ini bukanlah pilihan yang salah bahkan sudah menjadi sebuah keharusan. Dengan demikian semua kegalauan kebekuan yang ada di hatinya belakangan ini bisa tercairkan karenanya. Semua uneg-uneg dan ganjalan yang mengganggu bisa dihilangkan. Semua kelesuan bisa segar kembali. Semua kebimbangan yang ada di hati keduanya belakangan ini bisa berbunga-bunga kembali. Itulah harapan Abah dan itu juga harapan Ayu dan Bram. Tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan tetapi memerlukan proses. Salah satunya melalui makan sepiring berdua itu.

Jumat, 24 Juni 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 11



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 11


       Ayu mengunci pintu rumah Bram lalu menghidupkan mesin kendaraaannya dan langsung menuju ke warung katupat Acil Mirna. Dia sengaja tidak makan di warung itu tetapi ia hanya membeli katupat dua porsi, satu untuknya dan satu lagi untuk Abah, lalu ia pulang. Hanya dalam hitungan menit ia sudah sampai di rumah. Saat itu Abah sedang asik menonton tv sambil minum kopi. Sedih juga hatinya melihat tayangan berita di televisi itu. Di mana-mana selalu saja masalah banjir yang diberitakan. Bukan hanya di Jakarta dan beberapa daerah lainnya yang dilanda banjir, beberapa daerah di Kalimantan Selatan juga ada yang dilanda banjir. Kota Banjarbaru yang selama ini tak pernah kebanjiran ternyata tahun ini juga ikut dilanda banjir. Ternyata bukan hanya banjir, tetapi juga tanah longsor terjadi di beberapa daerah lainnya. Tiba-tiba ia terkejut melihat Ayu sudah duduk di sampingnya.

Sabtu, 18 Juni 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 10



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 10

10

       Pagi ini Dewi tidak seperti biasanya. Ia baru keluar dari kamarnya setelah lewat pukul tujuh, bahkan hampir pukul delapan. Dilihatnya pintu kamar Bram masih tertutup rapat. Barangkali saja ia masih tidur. Sebenarnya ia mau mengajak Bram sarapan pagi nasi goreng istimewa buatannya. Atau kalau perlu dia sendiri yang membawa makanan itu ke kamar Bram untuk sarapan bersama.  

Jumat, 17 Juni 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 09



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 09

09

       Diam-diam Bram keluar mencari warung kopi tetapi tak jadi karena ada Iras duduk seorang diri di luar. Nampak Iras cukup gelisah tentu sedang menantinya dari tadi.

       “Kak Bram mau pergi lagi ya?”
       “Tidak ke mana-mana,” jawabnya bohong. Sebenarnya ia memang mau pergi.
       “Ah tidak usah ngeles. Pasti mau keluar kan?” 

Jumat, 10 Juni 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 08



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 08

08
  
       Bram membuka pintu kamar itu pelan-pelan lalu masuk diiringi Surya. Nampak di atas meja tak teratur buah segar berdesakan dengan botol-botol infus yang belum terpakai. Saat ini Paman Juhri sedang tertidur pulas. Pelan-pelan Bram mendekati Paman Juhri. Tiba-tiba berdering HP-nya Surya, ternyata itu panggilan dari rumah yang menyuruhnya cepat pulang. Surya pun buru-buru pulang. Kini hanya ia sendiri yang tinggal di kamar itu. Ia meletakkan tas bahunya di tempat yang aman, lalu duduk di tepi ranjang Paman Juhri. Ia hampir meneteskan air mata karena terharu melihat Paman Juhri yang terbaring layu. Ia sudah merasa Paman Juhri ini seperti mertuanya sendiri. Hampir setengah jam ia berada di ruang Kumala A4 ini, baru ingat bahwa tadi sore ia tidak sempat pamitan dengan Julak Idar dan Ayu. Padahal sekarang hampir pukul sebelas malam. Haruskah ia memberi kabar sekarang? Harus! Itu sangat harus, tetapi apakah Ayu itu masih belum tidur? Akhirnya ia memutuskan harus memberitahu bahwa ia berada di Banjarmasin. Cepat-cepat ia mengeluarkan HP-nya, tetapi HP itu tak ada di sakunya. Dicarinya di dalam tas ternyata juga tak ada. Astagfirullah! Ternyata HP-nya ketinggalan. Wah, bisa kacau nih. Bukankah HP itu wajib harus dibawa kemana pun ia pergi? Tanpa HP ia tak bisa dihubungi dan juga tak bisa menghubungi rekan-rekannya yang lain, lebih-lebih lagi Julak Idar dan Ayu. Karena semua nomor-nomor penting ada di dalam HP itu. Tak ada satu nomor pun yang dapat diingatnya. Bagaimana ini? Apa boleh buat. Tiba-tiba ia melihat Paman Juhri membuka matanya pelan-pelan. Perlahan ia menoleh ke arah Bram lama sekali. Nampaknya Paman Juhri itu mencoba mengenalimya.

Sabtu, 04 Juni 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 07



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 07

07

       Hari ini hari Minggu. Sejak dini hari tadi Ayu tak bisa tidur lagi. Sehabis sholat Shubuh ia langsung merebus air dan memasak buat makan pagi. Memang kedengarannya sangat aneh, ini bukan kebiasaan ibu-ibu di sini. Di sini sarapan pagi tidak di rumah tetapi di warung, termasuk juga Abah. Memang tidak semuanya seperti itu, ada juga satu dua yang sarapan di rumah. Ayu belakangan ini termasuk yang biasa sarapan di rumah. Abah memahami perubahan sikap Ayu belakangan ini. Itu karena hubungannya dengan Bram sedikit membaik. Bukankah istri yang baik selalu mempersiapkan sarapan buat suami? Bukankah sudah seharusnya ia membiasakan dari sekarang? Abah geleng-geleng kepala dan manggut-manggut kepala lalu pergi cepat-cepat ke warung katupat Acil Siti yang murah meriah.  
 

Selasa, 31 Mei 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 06



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 06
06

        Sepulangnya dari rumah Abah seminggu yang lalu Bram jadi makin bingung dan semakin kacau balau. Bahkan ia merasa sebagai orang yang paling munafik karena telah bermuka dua. Di mulut berkata ya di hati berkata lain. Seyogyanya ia harus membuang prinsip yang kaku “Pantang Pemuda Makan Sisa”. Meski Ayu seorang janda tetapi ia bukan barang sisa. Hanya nasibnya saja yang malang, baru kawin dua bulan suaminya sudah meninggal. Untuk ini ia harus kembali menjadi Bram yang mencintai Ayu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Meski ia seorang janda tapi masih cantik menawan. Itu tidak bisa dianggap barang sisa. Ia seorang manusia yang sama sekali bukan barang.

Selasa, 24 Mei 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 4



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 4

04


       Bram cepat menutup HPnya, lalu menurunkan kendaraan. Setelah ia menutup pintu rumah meluncurlah kendaraannya melewati jalan berliku melintas di sela-sela rumah penduduk di bawah pohon kelapa, hambawang, rambutan, langsat, kapul dan pepohonan lainnya.  

Sabtu, 21 Mei 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 03



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 03

03

       Tiba-tiba ponsel Bram bergetar. Dia terkejut, ia gelisah, ia tegang. Apakah ini dari pengirim SMS lebay tadi? Ketika dibukanya ternyata benar. Waw! Panggilan ini memang benar dari si pengirim SMS lebay itu. Karena nomor ini sudah disimpannya dengan nama SMS Lebay. Jadi begitu dibuka maka yang tampil di layar ponsel adalah SMS Lebay. Ia cepat-cepat keluar, kurang elok rasanya kalau menerima telpon di dalam kelas.
       “Assalamu alaikum,” Ia membuka percakapan .
       “Wa alaikum salam Bapak keren,” sahutnya lembut.

Jumat, 20 Mei 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 02



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 02

02

       Kejadian pagi tadi membuat hati Agustina sangat tergoncang. Sampai sore bahkan sampai malam tiba, ia tetap saja tak bisa melupakan bayangan guru yang baru diangkat itu. Meski berkali-kali dia membuang bayangan guru baru itu, tetap saja tak mau hilang. Semakin kuat ia menghilangkannya, semakin kuat pula bayangan itu menggurat di hati. Semakin dilupakan semakin tampan dan memesona dan bahkan semakin gagah menawan.

       Ia menghela nafas panjang, pelempar senyum di warung katupat itu terbayang kembali. Ia seakan melihat wajah almarhum suaminya. Rambut, dahi, mata, hidung, pipi, mulut, dagu telinga bahkan sampai batang lehernya juga sama.  Sedikit pun  tak ada  bedanya.  Warna kulit, bentuk tubuh termasuk tangan dan kaki semuanya sama. Kini dia benar-benar menemukan kembali belahan jiwanya yang hilang selama ini. Kian hari pikirannya semakin tergoncang. Wajah guru baru itu selalu terbayang, bahkan terbawa-bawa di dalam mimpinya. Begitulah keadaan Agustina belakangan ini. Sikap dan tingkah lakunya berubah total. Ia selalu ingin menemui lelaki itu, Sayangnya warung itu hanya buka di waktu pagi saja. Akibatnya kini dia menjadi pemurung. Sikap dan tingkahnya lain dari biasanya, akhirnya terlihat juga oleh Julak Idar.

Rabu, 18 Mei 2016

RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 1



RINDU DI BUMI AMUK HANTARUKUNG BAGIAN 1

01

       Hari masih pagi baru pukul enam empat puluh menit. Tetapi bagi Bram Baswenda yang mulai bekerja hari ini  terasa begitu lama menunggu apel Upacara Bendera. Dia sudah siap sejak pukul enam. Begitulah kebiasaan Bram Baswenda sebelum menginjakkan kaki di bumi Amuk Hantarukung1 ini. Sebagai anak kost, ia sudah biasa hidup hemat. Itulah yang diajarkan kepadanya selama di panti asuhan.
       Hidupnya selama ini memang bergantung pada hasil kerja serabutan mahasiswa, dari jual jasa pengetikan komputerisasi tugas perkuliahan sampai pengetikan skripsri, termasuk juga printing dan penjilidannya. Di samping itu ia juga ikut aktif mengajar sebagai guru honorer di beberapa sekolah swasta dan ikut dalam bimbingan belajar Ujian Nasional. Selain itu ia juga aktif jadi panitia ini dan itu, termasuk juga jadi tukang ojek.
      Setelah  lama  menunggu  baru  terlihat ada beberapa siswa yang datang lebih awal. Ternyata itu adalah siswa petugas kebersihan hari ini. Tak lama kemudian barulah siswa-siswa  mulai  berdatangan,  disusul  guru-guru  dan pegawai tata usaha termasuk juga Kepala Sekolah.